Perjalanan Real Madrid ke Final Liga Champion

Real Madrid dan Juventus siap berhadapan di final Liga Champion musim ini di Cardiff. Keduanya akan menampilkan gaya permainan yang berlawanan.

Real Madrid melaju ke final setelah menyingkirkan Atletico Madrid di semifinal. Zinedine Zidane menjadi pelatih pertama yang bisa mengantar timnya ke final bergengsi ini 2 tahun berturut-turut setelah Sir Alex Ferguson melakukannya bersama Manchester United di musim 2008 dan 2009.

Ini adalah final ketiga Real Madrid dalam 4 tahun terakhir.

Lawan kali ini adalah Sang Nyonya Tua, Juventus. Juve sendiri lolos dari hadangan AS Monaco dengan skor meyakinkan. Terakhir kali Juve mencapai final adalah 2 tahun lalu, dimana mereka dikalahkan tim Spanyol lainnya, Barcelona.

Ini bukan pertama kalinya kedua tim bertemu di final. Keduanya pernah bertemu di Amsterdam pada tahun 1998 dan saat itu Real Madrid menang 1-0 lewat gol Mijatovic.

Perjalanan Real Madrid ke final.

Real bertemu dengan Borussia Dortmund, Sporting Lisbon, dan Legia Warsaw di Grup F. Mereka finish di posisi kedua di bawah Dortmund dengan selisih 2 poin. Walau tidak terkalahkan, Real bermain imbang 3 kali. 2 kali dengan Dortmund, dan hasil imbang mengejutkan dengan Legia Warsawa di Polandia.

Karim Benzema menjadi top skorer Real di babak grup ini.

Pada babak 16 besar, Real bertemu dengan Napoli. Tim Italia ini disingkirkan dengan agregat 6-2.

Pertemuan pertama di Santiago Bernabeu, Napoli sempat unggul terlebih dahulu lewat Lorenzo Insigne, sebelum Karim Benzema, Toni Kroos, dan Casemiro menutup pertandingan 3-1 untuk keunggulan Madrid.

Pada pertemuan kedua, dominasi kembali diraih Madrid dengan skor 3-1 pula.

Babak per delapan final, anak asuh Zidane bertemu dengan raksasa Jerman, Bayern Munchen.

Bermain awal di Allianz Arena, mereka tertinggal terlebih dahulu di babak pertama sebelum Ronaldo mencetak 2 gol dan memenangkan pertandingan tersebut 2-1.

Hattrick Ronaldo

Di Madrid, Bayern berhasil membalas dengan skor 2-1 pula, sehingga pertandingan harus memasuki babak tambahan. Di babak tambahan ini, Madrid pantas berterima kasih kepada Ronaldo. Hattricknya dan 1 gol tambahan dari Asensio meloloskan Real dengan agregat 6-3.

Di semifinal, Real bertemu dengan rival sekota, Atletico Madrid. Ini adalah pertemuan beruntun kedua tim di Liga Champion, dimana 3 musim sebelumnya, mereka sempat bertemu 2 kali di final.

Sayangnya, pelatih Diego Simone belum mampu membalas kekalahan tersebut. Mereka kembali disingkirkan Real 4 musim beruntun.

Pada pertemuan awal, hattrick Ronaldo menghancurkan Atletico. Hattrick beruntun pemain Portugal tersebut di Liga Champion sekaligus mencetak gol ke 103 nya di Champion. Rekor terbanyak gol saat ini dipegang oleh Ronaldo.

Di pertemuan kedua, Atletico hampir saja membalik keadaan setelah unggul 2-0 terlebih dahulu sebelum permainan menginjak 20 menit. Namun, Karim Benzema bermain luar biasa. Ia melewati 3 pemain Atletico sebelum melepas umpan kepada Toni Kroos yang langsung menembak. Tembakan tersebut masih mampu di blok Oblak, tetapi bola jatuh ke kaki Isco di muka gawang dan dengan mudah ia menjebloskan bola.

Keunggulan 2-1 ini berhasil dipertahankan Real, walau Atletico bermain luar biasa dengan berbagai peluang yang seharusnya menjadi gol.

Real Lolos

Real pun lolos ke final dengan agregat 4-2.

Lawan berat kini menanti. Juventus yang hanya kebobolan 1 gol di babak gugur, akan menjadi tantangan bagi Real untuk merebut trofi juara Champion musim ini.

 

Ikuti Juga : Insiden Pizzagate- Lemparan Pizza ke Muka Sir Alex

Pep Guardiola Mengaku Butuh Penyerang Yang Dapat Diandalkan

Pep Guardiola Mengaku Butuh Penyerang Yang Dapat Diandalkan

Kemenangan besar yang diperoleh Manchester City atas Crystal Palace dengan skor 5 – 0 dapat menjadi titik balik dan kebangkitan tim asuhan Pep Guardiola tersebut. Setelah mengalami kesulitan mencetak gol pada beberapa laga terakhir; menang 5 gol tanpa balas menunjukkan potensi yang sebenarnya dimiliki oleh tim Manchester City. Sang manajer mengakui bahwa kesulitan mencetak gol merupakan masalah utama yang ia hadapi semenjak menangani Manchester City di awal musim ini. Kegagalan menang menjadi alasan Manchester City kehilangan poin – poin berharga yang berdampak pada hilangnya peluang memenangkan gelar di musim ini. Mendatangkan pemain dengan kemampuan mencetak gol yang dapat diandalkan disebut – sebut menjadi rencana Pep Guardiola di bursa transfer pemain musim panas nanti.

 

Manchester City untuk pertama kalinya mencetak 5 gol di Liga Primer Inggris musim ini. Terdapat 5 pemain yang mencatatkan namanya di papan skor pada laga melawan Crystal Palace tersebut. Hanya saja sang manajer mengaku belum memiliki sosok pemain yang dapat diandalkan untuk selalu mencetak gol. Guardiola mengaku dirinya memiliki skuad berkualitas; hanya saja pemain yang bertugas mencetak gol ternyata belum dapat diandalkan dari pertandingan ke pertandingan berikutnya. Pemain yang mencetak gol harus mencetak gol; demikian ungkap Pep Guardiola ketika mengaku timnya tidak memiliki pemain dengan kemampuan tersebut.

 

Kemenangan 5 – 0 atas Crystal Palace tersebut membuka peluang bagi Manchester City untuk lolos ke Liga Champions Eropa musim depan; terlebih lagi ketika Liverpool hanya mampu bermain imbang tanpa gol saat menjamu Southampton dan Manchester United dikaahkan Arsenal di Stadion Emirates. Persaingan di Liga Primer Inggris diakui Pep Guardiola jauh lebih ketat dari Bundesliga dan juga La Liga. Jika Bayern Munich selalu mendominasi Bundesliga dan La Liga selalu menjadi persaingan Barcelona serta Real Madrid; Liga Primer Inggris memiliki 5 hingga 6 tim yang selalu bersaing ketat di setiap musim. Guardiola menyebut Chelsea dan Liverpool memiliki keuntungan di musim ini karena tidak terlibat di kompetisi Eropa dan situasi akan menjadi berbeda jika keduanya juga berlaga di kompetisi Eropa musim depan.

Pizzagate adalah insiden saat official Arsenal melempar pizza ke arah Sir Alex

Insiden Pizzagate- Lemparan Pizza ke Muka Sir Alex

Pertandingan-pertandingan di laga lapangan hijau memang sangat ramai. Karena antusiasme para penggemar sepak bola sendiri yang sangat besar. Kualitas dan karisma para pemain sepak bola menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar sepak bola. Bahkan tidak jarang juga, para penonton dibuat gemes sehingga melakukan pemberontakan atau tindakan yang tidak terduga, seperti pada Insiden Pizzagate official Arsenal.

 

Baca Juga : Laga Barca Legends vs Madrid Legends 28 April 2017

 

Olahraga sepak bola banyak sekali penggemarnya. Dari waktu ke waktu selalu bertambah dan akan terus bertambah. Kita bisa melihatnya dari keriuhan ketika liga pertandingan sepak bola sedang berlangsung agen sbobet terpercaya. Di setiap musimnya, selalu ramai dan dimeriahkan oleh banyak orang. Mereka sangat antusias dengan alur permainannya yang seru dan kelihaian para pemainnya.

 

Saking banyaknya penggemar sepak bola, mereka memiliki perkumpulan tersendiri. Setiap perkumpulan penggemar sebuah klub sepak bola terdiri dari ratusan bahkan ribuan orang. Saking banyaknya, stadion selalu dipenuhi oleh lautan manusia.

 

Antuasiasme dari para penggemar sangatlah besar, sehingga menyebabkan mereka selalu terbakar amarah ketika klub yang didukungnya mengalami kekalahan. Bahkan sangat sering terjadi hal-hal yang tdiak diinginkan, seperti perkelahian antar penggemar klub, atau tindakan anarkis yang lainnya. Seperti Insiden Pizzagate official Arsenal ini salah satunya.

 

Insiden Pizzagate official Arsenal

Insiden Pizzagate adalah salah satu bentuk protes penggemar Arsenal yang tidak terima tim yang didukungnya kalah dari Manchester United. Mereka melakukan tindakan pelemparan Pizza ke penggemar Manchester United. Dan puncaknya potongan pizza pun mendarat ke muka Sir Alex.

 

Pertandingan antara Arsenal dan Manchester United ini dilakukan pada tanggal 24 Oktober 2014 lalu di Old Trafford, dengan skor 2-0 dimenangkan oleh Manchester United. Laga pertandingan itu termasuk dalam laga Premier League musim 2014.

 

Karena para penggemar Arsenal tidak terima jika Arsenal kalah dari Manchester United. Penggemar Manchester United pun juga ikut membalas lemparan makanan dari penggemar Arsenal. Makanan-makanan lain selain pizza yang dilemparkan adalah roti isi, sup, serta makanan-makanan lainnya.

 

Lalu Insiden Pizzagate official Arsenal ini pun kemudian tercipta ketika lemparan pizza dari para penggemar klub mengenai wajah Sir Alex. Nama lain dari Insiden Pizzagate official Arsenal ini adalah “Battle of the Buffet”.

 

Insiden Pizzagate official Arsenal ini menjadi sebuah penutup dari 49 laga yang dihabiskan oleh tim Manchester United. Arsenal menjadi tim terakhir yang dikalahkan.

 

Kejadian atau Insiden Pizzagate official Arsenal ini memang seperti sudah direncanakan. Karena merupakan pertandingan final, jadi keadaan penggemar kedua klub sudah saling mengejek satu sama lain, sehingga suasana panas dan tegang sudah tercipta sebelum pertandingan dimulai. Bukan hanya itu, ketika pertandingan berlangsung pun berlangsung dengan sengit karena penuh dengan adu fisik dan saling menjatuhkan satu sama lain.

Insiden Pizzagate official Arsenal ini menjadi peristiwa yang bersejarah dan tidak akan terlupakan

Roy Keane, Dahulunya Seorang Atlet Tinju

Roy Keane, Dahulunya Seorang Atlet Tinju

Sosok kapten legendaris Manchester United ini masih melekat kuat di benak para fans Setan Merah. Dialah sosok fenomenal dari Irlandia, Roy Keane . Pemain tengah yang cukup kontroversial di dataran Inggris. Pemain ini nyatanya menjadi ikon tim United sejak tahun 1997 hingga tahun 2005-an.  Dalam masa kepemimpinannya di lapangan hijau, pria Irlandia ini sukses membawa tim setan merah meraih beberapa gelar prestisius.

 

 

Melihat rekam jejaknya dalam dunia sepak bola, Roy Keane merupakan pemain yang memulai karirnya justru bukan dari dunia si kulit bundar. Keane lahir pada tanggal 10 Agustus 1971 ini mengawali karirnya justru dari dunia tinju. Sejak kecil hingga usia 9 tahun, Keane rajin berlatih tinju di sebuah klub tinju di kota kelahirannya. agen sbobet mengabarkanHal ini dikarenakan postur tubuhnya yang dianggap kurang ideal untuk bermain bola.

 

Baca Juga : Gianluigi Buffon, Kiper Hebat yang Dahulunya Seorang Gelandang Penyerang

 

Kemampuannya untuk bermain tinju ini semakin membuta fisik pemain ini kuat hingga akhirnya Roy Keane memutuskan untuk banting setir dan bermain di Klub sepak bola lokal Rockmount AFC. Sejak usia 9 tahun inilah dia mengasah keterampilan bermain bolanya di klub lokal kotanya ini. Bertahan beberapa musim di Rockmount AFC Junior, akhirnya Keane bergabung dengan Cobh Ramblers.

 

 

Cobh Ramblers merupakan sebuah klub semi profesional yang berasal dari Irlandia. Dari klub yang diasuh oleh Eddie O’Rourke inilah yang mengantarkan Roy Keane mentas di kompetisi yang lebih tinggi. Berkat penampilannya kala membela Cobh Ramblers yang bersua dengan Belveder FC, membuat salah satu klub peserta Liga Inggris yaitu Nottingham Forest kepincut dengan kemampuan Keane.

 

 

Setelah mendapatkan kepercayaan penuh dari pelatih dan manajemen Nottingham, maka Keane selalu menjadi skuad inti dalam setiap laga yang dijalani. Hingga akhirnya di tahun 1993 klub besar Inggris yaitu Manchester United meminang pemain ini dengan harga  78 milliar rupiah. Selanjutnya, seiring dengan kemajuannya dalam bermain Roy Keane akhirnya didaulat menjadi kapten tim sejak tahun 1994.

 

 

Nampaknya karakter olahraga tinju yang sempat dipelajari ketika kecil dulu memberikan andil yang cukup dominan dalam gaya bermain Roy Keane. Sosok Keane dikenal sebagai pemain tengah yang sangat piawai dalam mematikan pergerakan lawan dengan karakter permainan yang keras dan lugas. Tak ayal jika dirinya menjelma menjadi maestro di lapangan tengah kubu The Red Devils.

 

 

Di bawah tangan dingin pelatih Skotlandia Sir Alex Fergusson, Manchester United sukses menjadi raja di tanah Inggris maupun Eropa dengan berbagai macam raihan gelar dan trofinya. Selain itu Roy Keane juga memberikan andil sangat besar dalam kesuksesan Setan Merah selama beberapa musim di era kepemimpinannya di lapangan hijau. Hingga kini rasanya Keane adalah salah satu legenda bagi Man. United.

Awal Karier “The King” Eric Cantona Adalah Seorang Kiper

Awal Karir “The King” Eric Cantona Adalah Seorang Kiper

Doupik.com – Manchester United adalah satu diantara sekian banyak klub sepak bola dunia yang memiliki penyerang-penyerang haus gol. Sebut saja nama Teddy Sheringham, Rooney, C. Ronaldo, Rudd van Nistelrooy, Mark Hughes, dan yang paling fenomenal adalah The King Eric Cantona. Khusus untuk nama terakhir merupakan sosok pemain penyerang yang teramat spesial bagi kubu Setan Merah.

 

 

Eric Cantona dikenal sebagai striker yang sangat menjadi fokus perhatian sepak bola Inggris pada tahun 1990-an. Bagaimana tidak, Cantona menjelma menjadi striker yang haus gol sekaligus striker yang dikenal paling kontroversial. Berbagai tindakan kontroversial yang berbalut emosional kerap kali dilakukan pemain asal Perancis ini. Sehingga sepak terjangnya selalu jadi perbincangan.

 

 

Kiprah perjalanan panjang dari pemain ini berawal dari Kota Marseille Perancis. 24 Mei tahun 1966 seorang bayi laki-laki lahir dari keluarga yang didominasi dari golongan berjuang. Anak laki-laki tersebut bernama lengkap Eric Daniel Pierre Cantona. Dari latar belakang yang kental dengan nuansa militer, maka seorang Eric Cantona menjadi seorang anak yang memiliki kepribadian keras dan pantang menyerah.

 

 

Kehidupan ekonomi keluarga pada saat itu bisa dikatakan miskin, membuat sosok Eric Cantona menjadi anak yang terus berjuang tanpa kenal lelah. Hingga akhirnya dia mulai tertarik dengan dunia sepak bola. Ketertarikan ini lantaran dia kerap bermain sepak bola bersama sang ayah. Hingga akhirnya dia memulai karir sepak bola juniornya bersama SO Caillolais di tahun 1981.

 

Satu hal yang menarik dari klub pertama the king Eric Cantona ini, ketika mulai bermain reguler di klub ini, Cantona sering dipasang sebagai kiper. Pada sat itu Cantona masih dalam proses pencarian jati diri sehingga dia dianggap cocok bermain sebagai kiper. Namun karena naluri menyerangnya yang tinggi, maka posisi kiper sangat tidak cocok dengan sosok Cantona.

 

 

Setelah satu tahun memulai karirnya di level junior bersama SO Cailolais, dia akhirnya hijrah ke Auxerre. Selama bermain di klub level atas liga Perancis ini emosi seorang Eric Cantona muda kerap meledak-ledak. Hingga akhirnya dia terlibat insiden baku hantam dengan rekan satu timnya. Akibatnya dia harus disisihkan di klub lain yaitu Olympique Marseille.

 

 

Pengalaman tidak mengenakan yang didapat Eric Cantona di klub sebelumnya tidak membuat dia jera dengan perilaku buruknya. Di Marseille dia terlibat lagi cekcok dengan rekan satu timnya. Hingga akhirnya diusir dari klub barunya. Dari kejadian ini sempat frustasi. Hinga akhirnya Michel Platini menyarankan dia untuk pindah ke Liga Inggris  bersama Ledds United.

 

Baca Juga : Judi Casino Online Dengan Menggunakan Uang Asli Terpercaya

 

Kasus kontroversialnya tidak berhenti di sini, di Ledds dia justru berseteru dengan sang pelatih. Akhirnya dia dijual dengan harga murah ke Manchester United. Di klub inilah nasib Eric Cantona berubah. Dia menjelma menjadi pemain kunci keberhasilan setan merah dalam merajai kompetisi sepak bola Inggris. Kesuksesan The King Cantona ini tetap saja dibumbui dengan berbagai perilaku kontroversialnya.